Review Everything
Jumat, 12 April 2019
Kamis, 11 April 2019
Watashi ni Tenshi ga Maiorita! REVIEW

Watashi ni Tenshi ga Maiorita! (私に天使が舞い降りた!) atau disingkat Wataten!adalah sebuah anime yang diadaptasi dari manga dengan judul yang sama yang ditulis dan diilustrasikan oleh Mukunoki Nanatsu.
Anime ini menceritakan seorang mahasiswi bernama Miyako Hoshino (disuarakan oleh Reina Ueda, biasa dipanggil Mya-nee) yang bersifat pemalu dan tidak pandai berbicara pada orang lain. Suatu hari dia dipertemukan oleh seorang gadis kecil bernama Hana Shirosaki (Maria Sashide) yang merupakan teman dari adiknya yang bernama Hinata (Rika Nagae). Miyako yang terpaku oleh keimutan Hana tanpa habis pikir meminta Hana untuk jadi temannya. Meskipun pada awalnya Hana bersifat dingin, lama kelamaan Hana pun luluh oleh kue buatan Miyako. Walaupun Miyako tidak pandai berbicara dan juga pemalu, dia pandai memasak kue dan sejenisnya serta membuat pakaian yang setiap hari dia minta Hana, Hinata dan teman-temannya untuk dipakai.

Mayoritas karakter di serial anime ini adalah siswi SD kelas 5. Hal tersebut pastinya menjadi sebuah daya tarik bagi para lolicon. Miyako sendiri bisa dianggap seorang lolicon dengan tingkahnya yang suka mengambil gambar Hana dan yang lain memakai kostum buatannya secara agresif. Dengan ceritanya yang ringan, anime Wataten! tidak melibatkan karakter-karakter di bawah umur ini dalam situasi erotis yang berlebihan sehingga membuat anime ini mempunyai daya tarik tersendiri.
Daya tarik lainnya dari anime ini adalah artwork yang imut. Para karakternya terlihat memiliki pipi yang bulat dan mulut yang lucu serta penggunaan skema warna dominan cerah. Sebuah kombinasi yang tepat untuk anime bergenre komedi dan kehidupan sehari-hari.
Sepanjang setengah cour anime ini karakter Miyako lama kelamaan mulai membaik meskipun masih memiliki sifat creep pada gadis-gadis kecil itu. Hingga episode terbarunya Miyako telah mempelajari untuk bagaimana berkomunikasi dengan orang lain. Bila perkembangan karakter ini dipertahankan hingga akhir, mungkin anime Wataten! akan memiliki akhir yang memuaskan.
Sebuah persoalan yang saya hadapi untuk anime ini adalah pengisi suara yang saya rasa kurang cocok untuk mengisi suara anak-anak SD kelas 5. Meskipun suara Hinata dan Hana terdengar masuk akal untuk anak seumurnya, tetapi untuk karakter Noa Himesaka (Akari Kitou) dan Koyori Tanemura (Hitomi Ohwada) mereka terdengar lebih dewasa untuk karakter seusianya, hal seperti ini dapat mengganggu imersi dalam menonton (setidaknya untuk saya).
Wataten! pada akhirnya adalah sebuah anime ringan yang cocok Anda tonton bila Anda ingin bersantai, tidak banyak konflik, dan cerita yang “standar” lengkap dengan gadis-gadis imut untuk menghiasinya.
3D Kanojo: Real Girl REVIEW

3D Kanojo: Real Girl ialah anime romance yang menandakan berakhirnya tayangan anime yang ditayangkan pada musim semi. Dari banyak anime baru yang hadir, hanya ada sedikit judul yang bisa membekas di hati. Untuk genre romance, yang masih populer di kalangan penggemar anime, ada beberapa judul yang menarik perhatian dan ditonton hingga akhir, salah satunya adalah 3D Kanojo: Real Girl.
Alangkah kagetnya Tsutsui ketika siswi itu sedang membersihkan kolam renang sendirian. Dia tidak menyangka kalau siswi bernama Iroha Igarashi itu benar-benar menjalani hukumannya, karena yang dia tahu, Iroha adalah siswi cantik populer yang dingin kepada semua orang di sekitarnya. Kebersamaan mereka berlanjut, mulai dari bertemu di sebuah restoran fast food, hingga Iroha akhirnya mulai menyukai Tsutsui ketika pria kurus berkacamata itu membelanya dari salah seorang siswa yang hendak bertindak kasar padanya.
Iroha lalu menyatakan perasaannya kepada Tsutsui, yang seketika menolaknya. Bukan karena Tsutsui tidak suka, tetapi lebih karena dia kurang percaya diri, ditambah dengan sindiran teman-teman sekelasnya kepada Iroha maupun dirinya. Meskipun demikian, pikiran Tsutsui perlahan terbuka dan dia akhirnya yang menyatakan perasaannya langsung kepada Iroha.
Di episode awal, kita akan disuguhkan dengan adegan kaku antara dua orang yang baru saja memadu cinta. Namun, seiring berjalannya episode, hampir tidak ada perubahan selain daripada karakter Tsutsui yang semakin ekspresif. Iroha masih saja terlihat biasa-biasa saja. Karakteristik kedua tokoh utama berkembang justru dengan dukungan karakter pendukungnya. Mitsuya Takanashi—pria tampanyang menyukai Iroha—mengambil peranan penting dalam membuat Tsutsui semakin ekspresif dan berani menunjukkan perasaannya terhadap Iroha.
Ketika penonton hampir dibuat menyerah dengan karakter Iroha yang seolah tidak ada perubahan, muncul Sumie Ayado sebagai pihak ketiga. Kebaikan Tsutsui padanya membuat Ayado perlahan menyukai pria otaku itu. Walaupun seperti yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, tidak selamanya kebaikan itu atas dasar cinta. Bisa saja karena memang pada dasarnya manusia ingin bersikap baik kepada orang lain
Dari visualisasi, anime besutan Hoods Entertainment ini memiliki penggambaran yang sangat sederhana. Terlalu berfokus pada karakter sehingga latar belakang hanya dibuat pada poin-poin tertentu yang dianggap esensial dalam cerita. Namun, sebagai anime yang terfokus pada pangsa pasar wanita, hal ini tidak terlalu dipermasalahkan.
Mob Psycho 100 2 REVIEW
Mob Psycho 100 2 REVIEW
Setelah menunggu dari 2016 lalu, akhirnya saya bisa menikmati kembali petualangan Mob dan gurunya, Reigen Arataka, dalam season keduanya ini. Mob Psycho 100 sebelumnya telah menyuguhkan adegan action intensif dan dibalut dengan komedi yang langsung mengundang tawa secara spontan. Harapannya, dalam sekuel ini, saya juga bisa menemukan hal yang tidak jauh berbeda dari apa yang telah disuguhkan dalam season perdananya.
Dalam episode pertamanya, terlihat kembali adegan Mob yang membantu gurunya membasmi roh jahat di sebuah pedesaan. Hal ini mirip dengan season pertama, di mana adegan action belum terlalu diperlihatkan di awal – awal episode. Justru unsur komedilah yang lebih ditonjolkan dalam episode perdananya. Kemudian di scene tertentu juga disisipkan Mob rage meter. Merujuk ke seasonpertamanya, rage meter ini menandakan adegan aksi yang akan semakin klimaks apabila rage meter semakin tinggi. Dengan adanya rage meter ini, maka kemungkinan konsep keseluruhan dari sekuel Mob Psycho 100 ini kurang lebih sama dengan season pertamanya, di mana adegan action akan semakin padat ditengah – tengah dan menjelang akhir serial.
Secara keseluruhan, episode perdana dari Mob Psycho 100 II ini cukup solid, sehingga saya yang memang sudah menunggu kelanjutan ceritanya dari 2016 tidak kecewa sama sekali. Dari segi desain karakter dan kualitas animasi pun sementara tidak ada perubahan yang terlihat. Mari kita menikmati bersama keseruan aksi Mob dan teman-temannya, yang tentunya dibalut dengan komedi yang siap mengocok perut kita.
REVIEW FILM MY STUPID BOSS 2
REVIW FILM MY STUPID BOSS 2
Melenggang mulus hingga mendulang 3 juta penonton, film My Stupid Boss cukup mengejutkan banyak pihak kala dirilis di tahun 2016. Bukan hanya pencinta film Indonesia, mungkin pembuat filmnya sendiri terkejut. Pasalnya film yang bercerita tentang karyawan yang punya bos menyebalkan ini nggak begitu diperhitungkan bakal mendulang jutaan penonton.
My Stupid Boss 2 masih bercerita tentang seorang Bossman (Reza Rahadian) yang pelit dan menyebalkan. Karena sifatnya itu, banyak karyawan yang akhirnya mengundurkan diri.
Suatu ketika Bossman mendapat undangan dari Vietnam untuk menghadiri acara penting. Dan acara ini dijadikan kesempatan Bossman untuk merekrut karyawan baru dari pedalaman Vietnam. Tentu alasannya cuma satu: supaya murah!
Alhasil, Bossman membagi karyawan utamanya menjadi dua tim. Tim pertama terdiri dari Diana (Bunga Citra Lestari), Mr. Kho (Chew Kin Wah), dan Adrian (Iedil Putra) yang ikut bersama Bossman ke Vietnam. Sementara Norahsikin (Atikah Suhaime) dan Azahari (Iskandar Zulkarnaen) bertugas menjaga kantor. Secara kesuluruhan My Stupid Boss 2 hanya akan berisi perjalanan tim pertama di Vietnam dan tim kedua yang harus berurusan dengan penagih utang atau debt collector.
Di cerita masing-masing tim, Upi yang juga menulis naskah memasukkan budaya populer sebagai bahan komedi. Di cerita tim pertama, My Stupid Boss 2 cukup piawai mengambil elemen budaya populer dari negara Vietnam melalui tokoh Nguyen (Morgan Oey). Sementara untuk cerita di tim kedua, My Stupid Boss 2 memasukkan budaya populer Tiongkok dan India melalui pertarungan dua debt collector: Babloo (Sahil Shah) dan Joni Wo (Verdi Solaeman).
Elemen budaya pop di masing-masing tim dikemas dengan apik. Hal ini juga ditunjukkan dengan pola editing Ryan Purwoko yang menyunting kisah masing-masing tim secara bergantian. Tapi karena kisah dari kedua tim nggak punya hubungan satu sama lain, suntingan seperti ini malah jadinya membosankan. Penonton seperti dipaksa menyaksikan dua konflik yang sebetulnya nggak saling berkesinambungan.
Selain mengemas budaya pop, kisah tentang perjalanan juga membuat kotak My Stupid Boss 2 lebih luas. Jika di film pertamanya kita disuguhkan lokasi yang hanya berkutat di kantor Bossman, di film keduanya banyak area outdoor yang dijadikan lokasi syuting. Banyaknya area luar yang disorot menjadikan visual film ini lebih sedap dipandang mata.
Tapi sayangnya, kedua hal ini (budaya populer dan perluasan cerita) seakan menghilangkan bentuk film My Stupid Boss 2 itu sendiri. Film ini jadinya hanya terlihat seperti kumpulan sketsa dari materi lelucon populer tanpa pernah membentuk satu kesatuan cerita yang utuh.
REVIEW FILM KUNTILANAK 2
REVIEW FILM KUNTILANAK 2
Rizal Mantovani kayaknya bisa dibilang cukup lekat dengan film horor. Memulai debut film horornya dalam Jelangkung (2001), sutradara yang kini telah menginjak usia 50 tahun ini melanjutkan eksperimennya dalam trilogi Kuntilanak. Bahkan, tahun lalu pun Rizal masih bereksperimen bersama Legacy Pictures dengan membuat film horor petualangan—sebuah tema yang baru banget diangkat dalam film Indonesia—dalam Gerbang Neraka alias Firegate.
Kali ini, Rizal balik lagi membawa salah satu hantu ikonis Indonesia ke dalam film yang bernuansa beda. Kuntilanak dihadirkan kembali dalam remake yang cukup segar dan menghibur. Coba aja lo lihat dulu cuplikannya di sini.
Kalau sebelumnya trilogi Kuntilanak lebih nyorotin sosok Julie Estelle sebagai Samantha yang punya kemampuan khusus buat manggil kuntilanak, Kuntilanak versi 2018 ini malah beda banget dari pendahulunya. Makanya, wajar kalau film ini adalah remake yang diusahakan untuk tampil lebih modern dan inovatif. Diproduksi oleh MVP Pictures, Kuntilanak mengisahkan tentang lima anak angkat yang ditinggal oleh ibu tiri mereka, Donna (Nena Rosier), ke San Fransisco selama tiga minggu. Lydia (Aurelie Moeremans) yang merupakan keponakan Donna diminta untuk menjaga mereka.
Semuanya berjalan lancar pada awalnya. Kresna (Andryan Sulaiman Bima), Dinda (Sandrinna Michelle Skornikci), Panji (Adlu Fahrezy), Miko (Ali Fikri), dan si bungsu Ambar (Ciara Brosnan) menghabiskan waktu mereka dengan bermain bersama dan membaca buku yang berisikan berbagai informasi tentang kuntilanak. Namun, setelah Glen (Fero Walandouw), pacar Lidya yang merupakan pembawa acara reality show mistis, membawa sebuah cermin antik ke rumah mereka, mereka pun mulai mengalami pengalaman aneh. Mereka juga harus menghadapi kenyataan bahwa ada kuntilanak dalam rumah mereka!
Sebetulnya, sejak melihat jajaran pemeran yang didominasi anak-anak, lo pasti curiga bahwa film ini mungkin mau dibikin asyik kayak Stranger Things atau It. Benar aja, enggak cuma bikin deg-degan karena scoring dan kemunculan sang kuntilanak yang cukup intens, lo juga bakal ketawa ngelihat tingkah tokoh anak-anak dalam film ini. Lo mungkin ingat sama It yang nampilin kengerian yang berkualitas.
Diakui atau enggak, bisa dibilang Rizal sedikit banyak terinspirasi dari gaya penceritaan It yang nampilin kengerian dari sudut pandang anak-anak. Kuntilanak pun punya karakter orang dewasa bernama Lydia yang enggak percaya pengakuan anak-anak bahwa rumah mereka dihantui kuntilanak. Meski begitu, gaya penceritaan ini juga di beberapa bagian terasa dipaksakan.
Kenapa? Soalnya, ada dialog-dialog yang dilotarkan karakter anak-anak, tapi terdengar dewasa. Kesannya jadi kayak maksain dialog orang dewasan diomongin sama anak-anak. Namun, beberapa celetukan karakter Dinda dan saudara-saudaranya cukup bikin ngakak, kok. Kepolosan mereka juga terlihat natural. Apalagi ada karakter Ambar yang menggemaskan banget yang bakal bikin lo jauh dari kata stres meski lagi nonton film horor.
Film ini dibuka dengan cukup menjanjikan. Kemunculan sosok kuntilanak dibuat dramatis dan membuka konflik baru bagi remake ini. Karena karakter utama dalam film ini adalah anak-anak, dibuatlah kuntilanak yang senang mengincar anak-anak sebagai sosok villain utama film ini. Masuk akal dan sama sekali enggak dipaksakan. Namun, masalahnya justru ada setelahnya.
Ada dua hal penting yang jadi informasi utama dalam film ini: 1) kuntilanak suka menculik anak-anak dan 2) kuntilanak berdiam di cermin. Oke, memang ada banyak banget film horor yang isinya tentang barang-barang antik yang terkutuk. Namun, yang jadi masalah adalah gimana cara benda antik itu bisa sampai di rumah anak-anak yang jadi karakter utama film ini.
Bagaimana enggak, masa iya lo lihat ada cermin antik dari rumah yang katanya dihantui kuntilanak, terus lo bawa ke rumah lo dengan santainya? DItambah lagi, yang ngebawa cermin itu adalah pembawa acara mistis. Ya, masa, sih, dia enggak mikir bahwa benda-benda yang ada di rumah yang katanya berhantu itu mungkin bisa berbahaya. Maksa? Lumayan.
Belum lagi soal karakter Lydia dan Glenn, dua orang dewasa yang harusnya bantuin anak-anak ini, yang pada akhirnya malah enggak ngebantu sama sekali. Mungkin yang ingin ditonjolkan di film ini adalah anak-anak yang jadi pahlawan buat diri mereka sendiri. Padahal, kalau ada keterlibatan orang dewasa di dalamnya buat bantuin mereka, sama sekali enggak salah, kok.
Penokohannya bisa dibilang kurang kuat, kecuali untuk karakter Miko yang konsisten digambarkan menyukai hal-hal berbau mistis. Penokohan Dinda dan Kresna pun baru terlihat menjelang akhir, saat kedua kakak-beradik tertua ini benar-benar berjuang melindungi adiknya, Ambar. Selain itu, perpindahan alurnya monoton dengan beberapa kali cuma menyorot rumah dari depan gerbang, baik siang maupun malam, di sudut yang sama. Meski begitu, pergerakan kamera di awal cukup dinamis dan dijamin bikin lo ngerasa layak ngikutin film ini sampai kelar. Sayangnya, saat keadaan sangat gelap, masih terlihat banyak noise yang cukup mengganggu.
Di balik itu, penggambaran kuntilanak yang beda dari film-film sebelumnya cukup diacungi jempol. Ada ide baru dari hal yang udah lama banget ada di kehidupan kita, ada gaya penceritaan baru, konflik baru, film horor Indonesia emang perlu berinovasi ke arah sini, sih. Setelah kemarin Joko Anwar bikin Pengabdi Setan, terus sekarang Rizal Mantovani bikin Kuntilanak yang bakal disusul juga sama Jelangkung 2, bisa dibilang, film horor Indonesia bakal semakin berkualitas.
Buat mengisi liburan Lebaran lo bareng keluarga, film ini pas banget jadi pilihan. Tegangnya dapet, lucunya dapet. Belum lagi, dilihat dari daftar nama di credit-nya, sih, kayaknya film ini siap buat sekuel. Jadi, jangan sampai lo kelewatan nonton yang pertama ini, ya! Jangan lupa untuk nonton film ini di bioskop mulai 15 Juni 2018, ya.
REVIEW ANIME KEMONO FRIENDS 2
KEMONO FRIENDS 2
Apakah Anda masih ingat dengan anime fenomenal Kemono Friends yang tayang pada musim dingin 2017 lalu? Sebelumnya, anime ini memang sempat diumumkan akan berlanjut ke musim kedua. Namun, hal tersebut sempat menimbulkan kesimpang-siuran karena kontroversi yang sempat menimpa sosok sutradara di balik animenya, TATSUKI. Secara tak diduga, para fans anime sahabat satwa ini tiba-tiba mendapatkan kabar gembira!
Diumumkan di akhir konser “Kemono Friends Live ~PPP Live~” yang digelar pada Minggu (2/9), anime Kemono Friends 2 akhirnya akan segera diproduksi. Tak hanya itu, video PV perdana dari anime ini ditayangkan di konser tersebut dan akhirnya dirilis secara online. PV-nya sendiri menampilkan salah satu friends (gadis hewan) yang berasal dari famili kucing-kucingan (Felidae), Caracal, dengan gaya animasi CG yang sedikit berbeda dengan musim sebelumnya.
Selain sekuelnya, audisi untuk mencari para member untuk grup unit baru animenya juga telah diumumkan. Audisinya sendiri dibuka untuk para gadis berusia 16 hingga 20 tahun dalam kondisi sehat jasmani dan rohani dan tidak sedang bergabung dengan grup produksi maupun agensi tertentu. Pendaftaraannya dibuka hingga 10 September.
Kemono Friends merupakan serial anime 3DCG yang diproduksi studio Yaoyorozu. Anime ini diangkat berdasarkan proyek media-mix yang digagas oleh oleh Mine Yoshizaki (Keroro Gunsou). Anime ini berhasil membuat berbagai kejutan di jagat dunia maya Jepang ketika anime ini ditayangkan pada musim dingin 2017.
Berkat kepopuleran animenya, gim terbaru dari proyek mix-media ini akhirnya diproduksi lagi oleh Bushiroad. Berjudul Kemono Friends Pavilion, gim ini telah tersedia sejak Januari 2018 lalu di platform ponsel pintar Android dan iOS.
Anime ini berkisah tentang seorang anak gadis (disuarakan oleh Aya Uchida) yang tersesat dan hilang ingatan di kebun binatang raksasa bernama Japari Park. Di tempat tersebut, ia bertemu dengan berbagai binatang yang berubah menjadi gadis manusia yang disebut Friends karena pengaruh partikel Sandstar yang misterius. Ditemani Serval (disuarakan oleh Yuka Ozaki), usaha sang anak untuk kembali pulang sekaligus mencari jati dirinya kemudian berubah menjadi petulangan bersama para Friends yang ditemuinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
The Promsed Neverland REVIE2W
The Promsed Neverland REVIEW The Promised Neverland atau yang juga dikenal dengan Yakusoku no Neverland merupakan manga mahakary...







